Hari ini pokcik berdiri lama di tengah tanah yang baru dicuci bersih oleh jentolak. Cangkul di tangan, peluh masih belum kering di belakang baju. Tanah ini dulu semak, penuh belukar, penuh duri. Hari ini ia jadi hamparan luas, sunyi, tapi sarat dengan harapan.
Kadang-kadang pokcik termenung begini. Bukan sebab letih semata-mata tapi sebab membayangkan apa yang bakal tumbuh di sini. Getah, ya, semestinya getah sebab tanah ini telah pun di mohon untuk tanaman semula getah dan mungkin juga nenas satu dua baris nanti ditengah-tengah antara setiab baris anak getah. Tanah yang keras ini, kalau sabar dilayan, dia akan beri rezeki. Tanah tak pernah menipu orang yang rajin.
Dari belakang, orang mungkin nampak pokcik hanya berdiri. Tapi dalam kepala, macam-macam bermain. Tentang hari esok, tentang kudrat yang makin berkurang, tentang doa supaya tanah ini jadi saksi usaha, bukan sekadar tempat berpijak.
Kadang-kadang, berdiri sekejap memandang tanah sendiri itu sudah cukup untuk menguatkan hati.
Esok, kita cangkul lagi.

Ulasan