Petang itu, Pokcik duduk atas batang kayu tumbang. Tanah masih berbau hujan semalam. Getah muda berdiri diam, macam tahu sesuatu yang besar sedang mendekat.
Ramadhan.
Entah kenapa, bila masuk saja bulan ini, hati jadi lain. Angin yang sama, kebun yang sama, kerja yang sama… tapi rasa dalam dada berubah. Macam ada tangan halus yang menenangkan.
Pokcik ni orang kebun. Hidup tak mewah. Bangun awal, balik lewat. Tangan keras, tapak kaki penuh lumpur. Tapi bila Ramadhan datang, semua itu terasa kecil. Yang besar cuma satu — peluang.
Peluang untuk bersihkan hati.
Menanam pokok ni, Pokcik belajar satu perkara. Benih tak terus jadi buah. Kita tanam, kita siram, kita jaga… lepas itu kita tunggu. Kadang-kadang panas terik, kadang-kadang hujan ribut. Tapi kalau sabar, ia tumbuh juga.
Puasa pun begitu.
Kita tahan lapar. Kita tahan marah. Kita tahan kata-kata yang tak perlu. Orang nampak cuma kita tak makan. Tapi yang sebenarnya kita sedang membaiki diri dalam diam.
Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah. Ia bulan muhasabah. Bulan untuk tanya diri —
“Sudah cukupkah aku bersyukur?”
“Sudah cukupkah aku memaafkan?”
Di kebun kecil ini, Pokcik belajar tentang syukur. Walau hasil tak selalu menjadi, rezeki tetap ada. Walau hidup tak sempurna, nikmat masih diberi.
Petang makin redup. Matahari jatuh perlahan di balik bukit. Dalam hati Pokcik terdetik satu doa mudah:
Ya Allah,
bersihkanlah hati ini seperti Engkau turunkan hujan membasahi tanah kering.
Suburkanlah iman ini seperti Engkau suburkan benih yang kecil menjadi rezeki yang besar.
Ramadhan datang lagi.
Bukan untuk orang sempurna.
Tapi untuk kita yang sedang belajar menjadi lebih baik.
Dari kebun kecil ini,
Pokcik mengucapkan…
Selamat Menyambut Ramadhan al-Mubarak.
Semoga bulan ini membawa damai pada hati, sabar dalam ujian, dan cahaya dalam setiap langkah kita. šš¤

Ulasan